|Beranda|berita|Tarbiyah

alhamdulillah saya bisa tersenyum....


Judul di atas kelihatan "lugu" , "klise" dan terlalu di"dramatisir, minimal menurut anggapan sebagian orang. Saya teringat dengan sebuah kajian di Masjid ITS yang di sampaikn oleh Dr Abdullah Shahab, sering kali kita menganngap bahwa kemampuan tangan kita untuk memegang gayung, menciduk air di bak mandi, kemudian menyiramkan ke tubuh kita adalah sesuatu yang biasa (tidak perlu di pikirkan) dan terjadi dengan sendirinya. Padahal, menurut beliau, "default" nya manusia itu tidak bisa berbuat apa-apa, termasuk memegang gayung. Untuk memegang gayung memerlukan mekanisme yang begitu kompleks, ada syaraf, otot dan sebagainya. Allahlah yang memberikan itu semua. Karena kasih sayang-Nya lah kita bisa memegang gayung (belum tentu yang tidak bisa memegang gayung tidak di sayang Allah). Tahukah antum, pada tahum 80-an di jepang pernah ada penemuan robot tangan yang memiliki kelenturan dan kepekaan tinggi yang karenanya robot itu bisa mengambil dan memegang telur tanpa pecah, penemuan ini mendapat sambutan luar biasa di media kala itu (padahal kita bukan hanya bisa mengambil telur, kita bisa melempar keatas kemudian menangkap tanpa pecah dan yang jelas kita bisa menggoreng dan memakannya). Artinya, bisa memegang gayung adalah nikmat yang luar biasa.
Bisa tersenyum adalah nikmat yang luar biasa, tahukah antum beberapa hari yang lalu ada seorang ikhwah yang sakit herpes (semacam cacar air, disebabkan virus), selain menyerang kulit virus herpes ini juga menyerang syaraf yang menghubungkan otak dan otot yang di wajah, dalam kedokteran ini disebut dengan facial palsy, dampaknya seperti stroke. Indikasinya, wajah bagian kanan tidak aktif, mata kanan tidak bisa berkedip, lidah bagian kanan tidak bisa mengecap,mulut sisi bagian kanan turun, otot pipi turun, karena sakit tersebut akhirnya ikhwah tersebut tidak bisa tersenyum dengan sempurna. Karena untuk tersenyum dua sudut mulut sedikit melebar dan sedikit terangkat, otot pipi harus terangkat, sedangkan ikhwah tersebut mulut , pipi dan mata kirinya tidak bisa mendukung mekanisme tersenyum. Walaupun ikhwah tersebut secara tulus ingin menghadirkan senyumnya kepada ikhwah lain, tapi yang nampak adalah senyuman wajah sebelah kiri (seperti senyuman sinis). Agar tidak terjadi kesalah pahaman ikhwah tersebut selalu menjelaskan kepada kawan yang diajak komunikasi, bahwa sebenarnya beliau ingin tersenyum. Subhanallah........
Oleh karena itu untuk bersyukur tidak perlu menunggu kita mendapat pekerjaan, mendapat pasangan hidup atau mendapat IP Cumlaude. Bisa tersenyum adalah nikmat yang yang sangat luar biasa.
Alhamdulillah saya bisa tersenyum.....

Dari Abu Umayyah Asy Sya' baniy berkata: Aku bertanya kepada Abu Tsa'labah: "Ya Aba Tsa'labah apa yang engkau katakan tentang ayat Allah yang bermaksud :


“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah sahaja diri kamu (dari melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah). Orang-orang yang sesat tidak akan mendatangkan mudarat kepada kamu apabila kamu sendiri telah mendapat hidayat petunjuk (taat mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan laranganNya) (QS. Al Maidah: 105)



Berkata Abu Tsa'labah:


"Demi Allah, aku telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w tentang ayat itu, maka beliau bersabda yang maksudnya:


"Beramar ma'ruf dan nahi mungkarlah kamu sehingga (sampai) kamu n melihat kebakhilan sebagai perkara yang dita'ati, hawa nafsu sebagai perkara yang diikuti; dan dunia (kemewahan) sebagai perkara yang diagungkan (setiap orang mengatakan dirinya di atas agama Islam dengan dasar hawa nafsunya. Dan Islam bertentangan dengan apa yang mereka sandarkan padan kamu (tetaplah di atas diri-diri ) dan tinggalkanlah orang-orang awam kerana sesungguhnya pada hari itu adalah hari yang penuh dengan kesabaran (hari di mana seseorang yang sabar menjalankan al haq dia akan mendapatkan pahala yang besar dan berlipat kali ganda). Seseorang yang bersabar pada hari itu seperti seseorang yang memegang sesuatu di atas bara api, seseorang yang beramal pada hari itu sama pahalanya dengan 50 orang yang beramal sepertinya."


Seseorang bertanya kepada Rasulullah s.a.w yang artinya: "Ya Rasulullah, pahala 50 orang dari mereka?" Rasulullah s.a.w berkata: "Pahala 50 orang dari kamu (para Sahabat Rasulullah s.aw.)"


{HR.Abu Daud: 4341, At Tirmizi: 3058, dan dihasankan olehnya; Ibnu Majah: 4014, An Nasai dalam kitab Al Kubro: 9/137-Tuhfatul Asyrof, Ibnu Hibban: 1850-Mawarid, Abu Nuaim dalam Hilyatul Aulia: 2/30, Al Hakim: 4/322-disahihkan dan disetujui oleh Az-Zahabi, Ath Thahawi dalam Misykalul Atsar: 2/64-65, Al Baghawi dalam Syarhu Sunnah: 14/347-348 dan dalam Ma'alimul Tanzil: 2/72-73, Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Jamiul Bayan: 7/63, Ibnu Wadloh Al Qurtubi dalam Al bida'u wa nahyuanha: 71, 76-77; Ibnu Abi Dunya dalam Ash Shobr: 42/1} Hadits Tsabit dari Rasulullah dengan syawahidnya (jalan lainnya).

Dalam hadis Rasullullah s.a.w di atas menunjukkan:
- Kewajiban untuk terus beramal ma'ruf nahi munkar sampai datang masa yang disifatkan oleh Rasulullah s.a.w.

Masa yang disifatkan oleh Rasullulllah s.a.w tersebut menunjukkan bahawa tidak bermanfaat lagi amal ma'ruf nahi munkar kerana disebabkan kerosakan manusia pada waktu itu.

Terkadang ada pertanyaan yang mengatakan: bagaimana derajat pahala yang diberikan orang-orang yang bersabar dalam beramal di atas al haq pada waktu itu berlipat kali ganda dibandingkan dengan amalan para sahabat r.a? Di mana, mereka adalah generasi pertama yang membangun Islam, menegakkan cahaya Islam, membuka negeri-negeri, meninggikan kekuasaan dan menancapkan Agama Allah.

Dan Rasulullah s.a.w. bersabda yang maksudnya : "Sekiranya kamu menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud setiap hari, tidak akan dapat menyamai mereka (para sahabat Rasullullah s.a.w) meskipun setengahnya." {Hadis sahih, lihat takhrijnya dalam (Juz'u Muhammab bin Ashim An Syuyukhihi: 12)}


Maka jawabannya adalah sesungguhnya para sahabat Rasulullah s.a.w adalah generasi yang telah masyhur amalannya, tiada satupun manusia setelah generasinya yang sebanding amalannya dengan mereka. Mereka telah menjalankan amal ma'ruf nahi munkar sebagai perkara yang besar untuk membuka dan mengukuhkan agama Allah iaitu Al-Islam.

Bilangan mereka di awal Islam sangat sedikit disebabkan kerana berkuasanya orang-orang kafir di atas al haq. Demikian juga di akhir zaman akan kembali keadaannya seperti di awal kemunculan Islam. Di mana janji tersebut dipersaksikan di atas lisan yang selalu benar perkataannya iaitu Rasulullah s.a.w. yang telah menceritakan akan terjadinya kerosakan zaman, munculnya fitnah, berkuasanya kebatilan, berkuasanya dan tingginya manusia dalam mengganti dan merubah al haq, terjatuhnya kaum muslimin kepada jalan yang ditempuh oleh golongan ahli kitab sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.

Rasulullah s.a.w. bersabda yang ertinya: "Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana datangnya." (Hadits Mutawatir, lihat kitab ku: Tuba lil Ghuroba, Al Ghurbatu wal Ghuroba, Penerbit Darul Hijroh, Damam)

Selamat Tinggal Sahabatku...


selamat tinggal sahabatku
ku kan pergi berjuang...
menegakkan cahaya islam
jauh di negeri seberang...

selamat tinggal sahabatku
ikhlaskan lah diriku
iringkanlah doa restumu
Allah bersama selalu

Walau pun tak lagi jumpa
usahlah kau berduka
semoga tunai cita-cita
raih gelar syuhada

Singa atau kucing….



Ada sebuah ungkapan yang menarik dari seorang ikhwah, kebetulan seorang aktivis dakwah kampung, “aktivis dakwah kampus (ADK) ketika di kampus seperti singa, garang. Tetapi ketika pulang kampung berubah menjadi kucing, tidak lagi garang” ungkap beliau sambil bergurau. Ikhwah fillah, kalau kita mau jujur, ungkapan sang ikhwah tadi ada benarnya juga. Kita memang sering menjadi singa yang garang ketika di kampus tetapi menjadi kucing manis dan imut-imut ketika di rumah.
Fenomena singa yang garang ketika di kampus tetapi menjadi kucing manis dan imut-imut ketika di rumah, terjadi disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya, pertama: faktor eksternal (lingkungan), kita sebagai seorang ADK dengan segala aktivitas dakwahnya di kampus, mulai dari menjadi masul lembaga, murobby, penulis produktif, panitia kegiatan sampai korlap aksi, ternyata ketika kita pulang kampung (baik beberapa hari saja maupun permanen), menghadapi situasi dan kondisi yang sama sekali berbeda dengan dunia kampus, kita seolah-olah memasuki “dunia lain”. Ketika di kampus masyarakat kampus dengan terbuka bisa menerima dan memahami tampilan dan atribut ke Islaman kita. Berbeda dengan di kampung, berjenggot tanpa kumis, berjilbab longgar plus kaus kaki, tidak berjabat tangan dengan selain mahrom, perbedaan furuiyah pada masalah fiqh ibadah dam lain sebagainya oleh masyarakat kampung dianggap sebagai sebuah “masalah besar”. Jika hal ini tidak disikapi dengan bijak maka bisa menimbulkan konflik yang akhirnya membuat kita “mati kutu”. Oleh karena itu kita membutuhkan pemahaman tentang fiqh dakwah, fiqh waqi’, fiqh awlawiyat dan fiqh muwazanat.
Selain faktor eksternal, yang membuat kita jadi kucing. Yang kedua: secara internal, tarbiyah dzatiyah kita lemah, ketika dikampus kita berkumpul dengan sesama ikhwah, kita jadi termotivasi untuk sholat berjamaah,tilawah qur’an,membaca buku islam, sampai sholat malam sekalipun, tetapi ketika di kampung itu semuanya menjadi berat, bisa jadi ketika sholat dhuhur di masjid kampung kita, kita jadi muadzin,imam sekaligus ma’mum alias sendirian. Selain itu di rumah adalah saat yang tepat untuk perbaikamn gizi dan istirahat total. Sehingga aktivitas-aktivitas positif dan amalan sunnah yang biasa kita lakukan ketika di kampus terlewatkan dan tergantikan dengan aktivitas mubah yan berlebihan. Sehingga kalau tidak kita manage dengan baik, pulang kampung adalah saat yang tepat untuk “bermalas diri” untuk sementara. Sehingga kalau semua ini terjadi maka alih-alih berdakwah kepada lingkungan di kampung kita, berdakwah kepada keluarga kita menjadi suatu hal yang berat dan sulit. Kita tidak memiliki semangat dan motivasi lagi dalam berdakwah terhadap keluarga kita. Sehingga kita menjadi orang yang “kesana kemari” berdakwah kepada orang lain, sedang orang-orang yang kita cintai yaitu ayah kita,ibu kita, kakak dan adik kita tidak merasakan dakwah kita. Oleh karena itu agar kita selalu berenergi ketika berdakwah di manapun saja, termasuk ketika jauh dari ikhwah, misalnya pulang kampung, maka kita harus melakukan tarbiyah dzatiyah dengan maksimal. .wallahu a’lam bishowab

“Nggumun...”



Nggumun adalah bahasa jawa, artinya kagum atau takjub. Nggumun terjadi bila melihat atau mendengarkan sesuatu yang “luar biasa”. Misalkan anak kecil yang belum pernah melihat pesawat terbang dari dekat, akan nggumun ketika naik pesawat terbang untuk pertama kalinya. Ekspresi kegagumannya bermacam-macam mulai dari memanyunkan bibir sambil geleng-geleng kepala di sertai suara ck.. ck.. ck.. berulang kali, melihat secara detail bagian-perbagian pesawat sampai menceritakan kepada teman-temannya di lain waktu dengan semangat. Oleh sebagian orang yang tidak mempunyai cita rasa bahasa yang baik sikap nggumun tadi disebut ndeso.
Sesuatu yang “luar biasa” yang membuat orang nggumun sebenarnya bersifat relatif. Relatif terhadap wawasan, pengalaman, pendidikan serta idiologi. Berbeda dengan contoh anak kecil di atas, seorang engineer, walaupun baru pertama naik pesawat (karena memang asli desa) dia tidak akan nggumun dengan bleger pesawat tersebut. Karena dia sudah tahu mengapa bentuk penampang melintang sayap pesawat di desain seperti yang kita lihat selama ini, dia juga tahu bagaimana mekanisme landing dan take off, apa material kulit pesawat, dengan cara apa bagian-bagian pesawat disambung dan lain sebagainya. Karena sang engineer memiliki sesuatu, yaitu wawasan, pengalaman serta pendidikan maka tidak membuatnya menjadi orang nggumunan. Dia tidak ndeso walaupun berasal dari desa.
Kalau kita lihat, pemimpin bangsa kita ini adalah pemimpin bangsa yang nggumunan. Bagaimana tidak, karena nggumun dengan bleger peradaban barat yang maju secara fisik dan mundur secara moralitas, membuat bangsa kita mudah ikut aturan main yang dibuat oleh lintah darat dunia dengan harapan mampu meniru mereka, alih-alih kita sekarang malah terjerat dalam lingkaran setan utang. Negeri kita dijarah kekayaanya dan dirusak lingkungannya, itu semua sebagai kompensasi utang-utang kita.
Nggumun sudah menjadi bahasa masyarakat kita. Kita lihat acara-acara di televisi kita mulai dari pagi sampai petang bahkan sampai pagi lagi. Sinetron bajakan dari korea atau taiwan, acara jiplakan idol-idolan, ghibah selebritis dan sebagainya yang sangat mempengaruhi mindset masyarakat kita. Sudah tidak ada perbedaan lagi cara berpakain artis holywood dengan pemudi kita. Tidak ada lagi perbedaan gaya dan warna rambut seorang penyanyai american idol dengan pemuda kita (walaupun kadang-kadang antara wajah dan rambur tidak match ). Tidak ada lagi perbedaan interaksi laki-laki perempuan bangsa indonesia dengan adegan-adegan senetron korea atau taiwan. Karena nggumun itu masyarakat kita merasa ndeso kalau tidak mengikuti sampah peradaban barat tersebut. Padahal sikap seperti inilah ndeso yang sebenarnya.
Dalam konteks gerakan mahasiswa Islam yang sudah dimulai sejak masa pergolakan revolusi, nggumun ternyata pernah (masih?) menghinggapinya. Yang dimaksud nggumun di sini adalah dalam hal pemikiran. Tak jarang sebuah gerakan mahasiswa islam yang tujuan awalnya untuk mendidik para mahasiswa dengan nilai-nilai islam serta untuk menyebarluaskan nilai-nilai itu, ternyata di tengah perjalanan mengalami berbagai pembelokan atau bahkan tanpa arah. Karena pemahaman Islam yang parsial dari aktivisnya, melihat Islam sering hanya dari satu sudut pandang saja misalkan tentang Fiqh oriented atau dakwah sosial kemasyarakatan saja tanpa juga di imbangi dengan pemahaman tauhid serta ilmu alqu’ran dan hadits yng proporsional. Keparsialan pemahaman Islam ini bukan murni kesalahan mereka, tetapi lingkungan, kultur, latar belakang pendidikan keislaman serta orang-orang di sekitarnyalah yang membentuk mereka. Tetapi yang menjadi masalah adalah ketika mereka berani mengatakan (walaupun tidak terucap) bahwa Islam itu jumud, tidak sesuai dengan perkembangan zaman atau paling tidak ada banyak sisi yang tidak bisa diselesaikan oleh Islam. Sehingga pada suatu saat ketika mereka berhadapan –bisa dengan membaca,berdebat, berdiskusi, ketika di cuci otaknya atau hanya sekedar mendengar- dengan ideologi lain hal pertama kali yang mereka rasakan adalah nggumun. Kenggumunan ini bisa muncul karena keminderan dengan Islam yang ternyata parsial dan jumud –menurut mereka- jika dibandingkan dengan Ideologi lain, atau bisa juga seperti fenomena pemuda asli Indonesia yang gaya dan warna rambutnya mirip artis american Idol, hanya biar bisa dikatakan keren, tidak ndeso dan tidak ketinggalan zaman. Jadi belajar ideologi lain biar bisa dikatakan keren, ideologis, aktivis sejati dan sebagainya. Naudzubillahi min dzaalik
Pemahaman Islam yang kurang memadai (tentu juga pengamalannya) sering kali membuat seorang aktivis Islam yang sering berinteraksi dengan pemikiran/ideologi lain, terpelanting dari jalan dakwah yang lurus. Cukuplah kisah seorang Syaikh yang berusaha memerangi firqah bid’ah Syi’ah Rafidlah, kemudian dengan getol mempelajari literatur-literatur sekte ini untuk membantah dan mencari kelemahaanya. Tetapi seiring berjalannya waktu sang Syaikh itu justru keluar dari Ahli Sunnah wal Jamaah dan berpindah ke Syiah Rafidlah.
Umar RA yang pada suatu saat membawa Taurat ke hadapan Rasul dengan alasan mengambil sesuatu yang baik dari Taurat tersebut, tetapi dengan murka Rasul menjawb bahwa andaikan Nabi Musa masih hidup, maka Nabi Musa pun akan mengikuti risalah Rasul. Akan tetapi bukan berarti kita tidak boleh mengambil “sesuatu” dari mereka (orang-orang ber-isme selain Islam), yang perlu kita pahami Rasul atas saran Salman Al-Farisi pernah mengadopsi teknologi perang bangsa penyembah api,Parsi.
Sehingga dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita harus tajarrud (totalitas) dalam berislam, tidak boleh ada sedikitpun isme-isme selain Islam dalam kehidupan kita. Tetapi di pihak lain kita diperintahkan untuk mempersiapkan kekuatan dalam menegakkan Agama Allah. Yang salah satu dari kekuatan itu adalah Ilmu pengetahuan dan Teknologi. Walaupun itu harus kita dapatkan dari tangan orang-orang kafir. Karena berdasar sabda Rasul bahwa semua hikmah yang berserakan adalah milik kaum muslimin dan kita berkewajiban untuk mengambilnya kembali. Semoga kita bukan menjadi aktivis yang suka nggumun serta ndeso pemikiran. Wallahu a’lam