|Beranda|berita|Tarbiyah

Dan Tikuspun Rapat


ada kisah menarik terinspirasi dari kitab klasik.

Pada suatu hari disebuah rumah, tinggal segerombolan tikus. Tampaknya mereka sedang rapat. Membahas 'pagebluk" yang menimpa komunitas mereka,. akhir-akhir ini, hampir setiap hari satu atau dua ekor tikus mati. Penyebabnya satu, ada kucing baru di rumah itu. Ya banyak tikus mati dimangsa kucing baru itu. Kehadiran kucing itu menimbulkan kepanikan yang luar biasa.
Rapat dipimpin oleh sesepuh komunitas tikus tersebut. Sesi usulan dibuka, bermacam-macam usulan dilemparkan, mulai dari meracun kucing, mengeroyok sampai usulan "hijrah" dari rumah terebut. Tapi usulan-usulan tersebut dimentahkan oleh sebagian atau seluruh forum rapat tersebut, karena dianggap tidak realistis dan tidak relevan. Waktu semakin berjalan, namun tidak ada satu pendapatpun yang solutif, keputus asaan mulai menghinggapi seluruh peserta rapat. Namun, ditengah-tengah keheningan ruangan rapat tersebut, tiba-tiba berdiri sesekor tikus muda, "saya usul", suaranya lantang memecah suasana," permasalahan utama kenapa banyak saudara-saudara kita yang mati di mangsa kucing adalah, karena mereka tidak menyadari kehadiran tikus disekitar mereka" suaranya menggema begitu meyakinkan, menyihir peserta rapat yang lain." saya yakin", lanjutnya," korban akan dapat dihindarkan kalau kita punya 'sistem peringatan dini kedatangan kucing' ", sontak hujah-hujahnya yang rasional itu menerbitkan harapan dikalangan mereka, ada yang mendengar dengan manggut-manggut, sekedar terperangah dengan ide brilian tersebut, bahkan ada yang sampai berteriak histeris. " usul konkrit!!" ujarnya sambil menghela napas, membuat rangan menjadi tegang, menanti solusi konkrit oleh tikus muda yang cerdas itu. " sebagai 'sistem peringatan dini kedatangan kucing' tersebut kita akan MEMASANG LONCENG dileher kucing tersebut, setiap kucing itu mendekati kita dalam radius delapan meter, kita akan tahu kedatangannya dan kita akan ada waktu 10 detik untuk lari....". Tanpa dikomando seluruh peserta berteriak setuju. Sorak sorai bersahutan, mereka saling memeluk, bahkan tikus muda sang empunya ide beberapa kali dipanggul oleh tikus lain. Tampaknya mereka tenggelam dalam eforia kebahagiaan. Mereka yakin . dengan "solusi konkrit" tersebut, nyawa mereka akan terselamatkan.
Namun, ditengah-tengah hiruk pikuk tersebut, ada seekort ikus senior, yang tiba-tiba berteriak, " sebentar.. sebentar... satu hal yang masih menjadi tanda tanya besar buat saya, bagaimana cara MEMASANG LONCENG dileher kucing itu?, sontak semuanya terdiam, terpekur, di sudut lain tampak sang tuikus muda itu hampir pingsan. Mereka tak tahu jawabannya.

saudaraku sealian, Rasul dalam merealisasikan cita-cita besarnya untuk menegakkan aturan Allah dimuka bumi ini, tidak melakukannya dengan bim salabim, tapi dengan amal dan amal. tidak sekedar amal , tapi amal yang didukung dengan visi dan misi robbani, langkah-langkah yang jelas dan implementatif, pengikut yang teruji keimanannya dibuktikan dengan jihad dan dakwah (tidak sekedar berteori), dan sebuah jamaah yang kokoh dan solid tanpa menghilangkan status muhajirin atau anshor, bahkan dalam perang pun kaum muslimin masih membawa bendera suku-sukunya, saling berlomba, untuk menunjukkan kontribusi terbaik setiap suku yang mereka persembahkan untuk Islam.
So untuk mewujudkan "solusi konkrit", kita harus beramal konkrit.

Conan Edogawa dan istighfar




Ya... memang akulah pembunuhnya, dendamku sudah terbalas... dia telah membunuh keluargaku beberapa tahun yang lalu" begitulah kurang lebih pengakuan Sang pembunuh, setelah trik membunuhnya "yang cerdas" dan tersusun rapi berhasil di ungkap secara brilian oleh Sinichi Kudo alias conan Edogawa, dalam salah satu serial Film kartun detektif Conan.
pada suatu pagi waktu saya masih kuliah S-1, di sebuah warung sekitar kampus , sambil makan nasi pecel plus telur dadar, sambel kecap dan krupuk udang kesukaan saya, saya secara tidak sengaja mengikuti sebuah pernyataan seorang pemuda kepada ibu penjual warung tersebut. " Aku sangat heran dengan teman-teman kampung sini... "nakal" (berbuat kriminal) kok di kampung sendiri... nakal gak papa asal jangan di kampung sendiri..beda dengan aku.. walapun aku "nakal"... nih lihat kakiku pernah ditembak polisi.. tapi aku tidak pernah "nakal" di kampung sendiri...
Di sebuah acara berita kriminal di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia, seorang penjambret yang ditangkap polisi, mengaku bahwa alasannya menjambret adalah untuk menghidupi anak yatim piatu. Yang tentu saja alasan tersebut ditanggapi dengan "sindiran" oleh sang pembawa acara, bahwa alasan itu mengada-ada.
Ada survey yang unik, bahwa mayoritas narapidana tidak merasa bersalah atas tindakannya. Meraka selalu punya "alasan yang masuk akal' (minimal menurut nereka sendiri) untuk melakukan kejahatan tersebut.
Ikhwah fillah, Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa beristighfar, mohon ampun kepada Allah atas segala dosa kita, minimal 70 kali dalam sehari. Juga di sunnahkan sebelum berdoa, diawali dengan istighfar. Apa himah di balik itu semua?wallahu a'lam.
Ketika seseorang minta ampun (dengan ikhlas dan sungguh-sungguh) kepada Allah maka tindakan itu, pasti diawali dengan persaan merasa bersalah, menyesal, takut dengan murka dan adzab Allah atas tindakan dosanya, 'sekecil" apapun kesalahan itu. Dengan bekal perasaan khouf (takut) kepada Allah inilah yang mendorong seseorang untuk bersungguh-sungguh untuk beribadah, selain karena adanya roja' (harapan) dan mahabbah (cinta kepada Allah). Tanpa adanya perasaan merasa bersalah serta takut kepada Allah, mustahil seseorang akan beristighfar kepada allah secara bersungguh-sungguh, juga dapat dipastikan orang tersebut akan sulit merasakan manisnya iman, akan sulit merasakan manisnya ibadah, akan senantiasa berkecimpung dengan kesalahan (dosa) yang sama.
Oleh karena itu kenapa para narapidana setelah keluar dari penjara kemudian menjadi residivis dan juga meningkat "karir" kejahatannya. dari seorang pencuri, menjadi pencopet, dari pencopet menjadi penjambret, dari penjambret menjadi penodong, dari penodong menjadi menjadi perampok dan seterusnya, walaupun juga tidak dinafikan ada juga yang betul-betul bertaubat. salah satu jawabannya, karena mereka tidak memiliki rasa bersalah dan menyesal, syaithon telah memberikan "tazyin" atau memandang baik kemaksiatan yang dilakukan atau bahasa yang telah kita gunakan tadi adalah 'alasan yang masuk akal" untuk melakukan kejahatan.
Walaupun tidak se"ekstrim" ilustrastri di atas, seringkali kita tidak merasa bersalah atau menyesal terhadap perbuatan dosa kita bahkan memandang baik perbuatan tersebut, nastaghfirullah al-adzim. wallahu a'lam

C.I.N.T.A


Kasih Sayang (cinta), Anugerah Allah Terindah.... ...
Sore itu, dalam perjalanan kesurau, terlihat seekor anjing liar yang sedang mengais-ngais sisa makanan di tempat sampah. Anjing itu tampak pincang, ya, salah satu kaki depan anjing itu memang putus. Mungkin, anjing itu adalah anjing yang saya jumpai bulan ramadlan yang lalu, nampak lapar dan kehausan, waktu itu kakinya masih "kiwir-kiwir" hampir putus, waktu akan dibelikan makanan , anjing itu malah lari ketakutan. Alhamdulillah, anjing liar itu kini sudah menjadi ibu dari anaknya yang lucu-lucu. Di sebuah "rumah" kolong jembatan. Setiap hari anjing itu keluar mencari "sesuap nasi" demi memberikan susu buat anak-anaknya. Subhanallah, ditengah-tengah kekuarangannya induk anjing itu "dengan ikhlas" merawat anak-anaknya. Ya, karena Allah menganugerahkan kasih sayang kepada anjing itu.
Pada tahun sembilan puluhan, diakhir sesi Dunia dalam berita TVRI, ada sebuah berita yang menarik. Di sebuah kebun binatang di luar negeri, ada seorang bayi yang terlepas dari gendongan ibu yang sedang menonton simpanse dengan jarak yang begitu dekat, sehingga bayi itu masuk ke kandang simpanse. Sang ibu panik dan menjerit histeris, tidak bisa berbuat apa-apa selain minta tolong. "kehadiran" bayi dikandang itu "menarik" perhatian para simpanse, sebagai informasi dalam kondisi tertentu simpanse bisa berubah menjadi kanibal, terutama dengan simpanse dari suku lain. Tiba-tiba dengan cepat ada seekor simpanse betina menghampiri bayi itu, menggendong, mendekapnya, layaknya seorang ibu. Simpanse betina itu melindungi sang bayi dari serangan simpanse lain. Ia mempertaruhkan nyawa untuk membela bayi itu yang jelas-jelas bukan anaknya. dan akhirnya bayi itu selamat. subhanallah, allah telah menganugerahkan kasih sayang yang universal kepada simpanse betina itu.
Di salah satu acara Discovery Chanel, saya melihat sebuah tayangan yang spektakuler. Di tepi sebuah sungai yang rimbun dan bersemak tinggallah seekor buaya betina yang siap untuk bertelur. Tidak jauh dari sarang induk buaya itu ternyata juga ada tempat induk kura-kura menyimpan telur-telurnya yang nampak mulai menetas. Satu-persatu tukik, anak kura-kura, secara instingtif merayap menuju air. Tapi ternyata dari puluhan tukik itu ada yang salah jalan, bukan merayap ke air malah merayap ke tempat lain. "Celakanya" anak tukik itu merayap ke arah induk buaya yang "bersemayam" di sarangnya. Dengan secepat kilat sang buaya menyambar tukik itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Sejurus kemudian, sang buaya membuka mulutnya. ternyata sang buaya tidak mengunyah atau menelan yang tukik. Ternyata sang induk buaya memutar tubuh sang tukik, sehingga kepala tukik itu menghadap ke "jalan yang benar", ke arah sungai. Kemudian setelah itu sang induk buaya meletakkan tukik itu. Kemudian dengan tanpa "rasa bersalah", seolah-olah tidak terjadi apa-apa, sang tukik merayap menuju sungai. Subhanallah allah telah menganugerahkan kasih sayang yang universal kepada buaya betina itu.
Ikhwah fillah, Allah adalah Dzat yang sangat luas kasih sayangnya, walaupun hanya seperseratus yang diberikan di muka bumi ini, sudah membuat seekor induk binatang tidak menginjak anaknya, itulah yang disampaikan oleh rasul kita. Dan tiga ilustrasi diatas, induk anjing yang pincang, induk simpanse, dan induk buaya, juga bukti bahwa Allah memberikan rasa kasih sayangnya kepada semua makhluknya. Termasuk kita, manusia, makhluk yang paling sempurna.
Allah sangat mencintai orang yang memiliki kasih sayang. Oleh karena itu Allah memberikan surga bagi seorang pelacur yang memberikan minuman bagi anjing yang hampir mati karena kehausan. Dan Allah memberikan neraka bagi seorang yang "memenjarakan" kucing tanpa diberikan makanan.
Ikhwah fillah, kalau "sekedar" memberikan kasih sayang kepada binatang Allah memberikan surga. Apatah lagi, kalau kita memberikan kasih sayang itu kepada sesama manusia? wallahu a'lam bishshowab

Andaikan Mereka Tahu Cinta Kita....


” sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rosul dari kamu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat mengiginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin". Itulah pujian Allah yang diberikan kepada Rasulullah, karakter yang mulia, karakter yang juga sekaligus menjadi "rahasia" kesuksesan dakwah Rasulullah. beliau begitu empati pada masalah umat, begitu peduli dan juga begitu cinta. Cukuplah ucapan "ummati... ummati..." (umatku...umatku) menjelang beliau wafat sebagai buktinya. Cinta kepada ummatnya tidak hanya didunia, tapi dibawa sampai ke akhirat, beliau akan memeberikan syafaat kepada umatnya, beliau akan menjadi manusia terakhir dikalangan umat Islam yang masuk surga. Bukan karena beliau tidak bisa masuk sorga sendirian, tetapi karena cintanya kepada umat, memastikan bahwa seluruh umatnya masuk surga. subhanallah.
Masih ingatkah kita tentang kisah yang begitu luar biasa pasca kewafatan rasulullah. Abu bakar sebagai khalifah pengganti Rasul mengantikan seluruh peran rasul sebagai pemimpin umat. termasuk meneruskan amanat pribadi rasul . Setiap hari abu bakar datang ke rumah orang yahudi yang buta dan sangat tua, untuk memberikan makan sekaligus juga menyuapi orang tua tersebut."Tugas" yang selama ini dilakukan Rasul, tanpa diketahui oleh orang tua tersebut. Tetapi uniknya orang tua tersebut selalu memaki-maki Rasulullah dalam setiap kesempatan, karena orang tua tersebut buta, dan juga rasul tidak pernah menyebut identitasnya dihadapan orang tua tersebut. Tetapi yang lebih "unik" adalah rasul tetap istiqomah memberikan makan dan sekaligus menyuapinya. Seperti yang kita ketahui, orang yang pernah menyuapi kita adalah orang yang paling mencintai kita, salah satunya adalah ibu. Berarti begitu besar cinta rasul kepada orang tua tersebut walaupun dimaki-maki setiap hari. Tahukah antum, orang tua itu baru tahu bahwa yang memberikan makan kepadanya dan yang menyuapinya selama ini adalah Rasul yang mulia, yang selama ini pula ia maki-maki. orang itu baru tahu setelah diberi tahu oleh abu bakar. yang akhirnya mebuat dia sadar dan bertaubat dan akhirnya memeluk agama Islam. Subhanallah.
Itulah salah satu rahasia keberhasilan dakwah Rasul. Sebuah risalah yang jelas kebenaranya yang kemuadian disampaikan kepada umat manusia dengan kasih sayang, cinta, pengorbana, empati dan semangat untuk menyelematkan umat dengan mengajak kepada Islam. Sekali lagi Islam tidak hanya benar, tetapi didakwahkan secara benar.
Ada sebuah penuturan yang cukup menarik dari mantan rohaniawan sebuah agama, yang akhirnya ia memeluk Islam. Dalam agamanya yang lama, "daya tarik" agama tersebut bukan pada kebenaran agama tersebut, karena memang ajarannya tidak sesuai dengan fitrah dan tidak masuk akal dan yang jelas buatan manusia. Oleh karena itu betapa banyak orang yang sudah mencapai tarap "ulama" dalam agama tersebut, akhirnya mereka memeluk agama Islam setelah menyadari kesalahan ajaran agama tersebut dan menyadari kebenaran Islam. Tetapi, lanjut mantan rohaniawan agama tersebut, yang menjadi "daya tarik" agama tersebut adalah jargon cinta dan kasih sayang yang mereka kemas sedemikian rupa, yang mereka lembagakan, yang mereka kurikulumkan, yang mereka doktrinkan secara sistematis melalui sekolah calon rohaniawan mereka, mereka kemas jargon cinta dan kasih sayang mereka dengan pemahaman antropologi dan sosiokultural yang begitu mendalam, penguasaan psikilogi manusia maupun psikologi sosial. Bagaiman secara cerdas mereka bisa masuk ke jantung pertahanan umat islam. Mereka secara gilang-gemilang mengambil satu-persatu umat islam dari pangkuan islam, bukan dengan modal kebenaran agama mereka atau kesalahan agama Islam, tetapi dengan modal "cinta dan kasih sayang". Mereka paham betul yang dibutuhkan oleh orang yang kelaparan adalah makanan, mereka paham betul yang diperlukan oleh masyarakat marjinal adalah perhatian dan kasih sayang, mereka paham betul yang diperlukan oleh pengangguran adalah pekerjaan yang layak, mereka paham betul yang diperlukan orang tua adalah pendidikan yang pantas dan murah bagi anak-anak mereka. Dan mereka bisa memberikan semuanya. Mereka datangi kawasan kumuh -yang para da'i belum menyentuhnya-, mereka bagikan makann, mereka beri pekerjaan pemuda mereka, mereka berikan ketrampilan kepada mereka, mereka berikan pendidikan gratis. Mereka advolasi, mereka rela tidur ditempat kumuh, bahkan ada kisah yang cukup kesohor adalah bagaimana seorang rohaniawan agama tersebut rela tidur berbulan-bulan lamanya bersama dengan mereka "dengan atas nama cinta". Siapa yang tidak kepincut dengan "cinta" mereka. dan akhirnya sang rohaniawan tersebut secara perlahan tapi pasti berhasil memurtadakan umat Islam. Di sisi lain memang benarlah sabda Rasul bahwa kefakiran mendekatkan pada kekafiran. Diakhir pemaparannya amantan rohaniawan agama tertentu yana akhirnya masuk Islam menyimpulkan bahwa, agama lamanya tersebut sangat tergantung dengan "performance" cinta para pengemban misinya. Berbeda dengan Islam yang memang sudah benar dari "sononya", asal sedikit saja manusia berpikir oblektif dan berpikir rasional, pasti manusia akan memilih Islam.
Apakah disini saya mengajak untuk meneladani mereka? demi Allah tidak, sekali lagi demi allah tidak. cukuplah rasul sebagai teladan kita. Cinta rasul kepada umat manusia dibangun atas dasar iman, begitu pula seharusnya kita. cinta kita kepada manusia bukan atas dasar dorongan psikologi atau sekolah kepribadian tapi atas dasar iman.
Dengan landasan cinta kepada umat inilah Insya Allah dakwah Islam akan kembali menemui kejayannya. Orang akan berbondong-bondong mendukung barisan dakwah. Cinta kita bukan cinta semu,cinta kita bukan sekedar janji tapi cinta kita adalah cinta yang terbukti, cinta yang diwujudkan dengan nyata. hasan al-banna pernah menyampaikan " seandainya umat ini tahu bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri niscaya umat ini akan berbondong-bondong untuk mendukung dakwah ini". wallahu a'lam bisshawab

Perjuangan yang Bervisi....


Ada sebuah fragmen yang menarik, pada suatu hari ada seorang pemuda yang “iseng” bertanya kepada tiga orang tukang bangunan yang sedang bekerja. Mereka mengerjakan bagian bangunan yang sama , yaitu pondasi. Mereka sama-sama membangun pondasi sebuah SDIT. Dari tempat yang agak jauh, sang pemuda mengamati aktivitas empat orang itu. Dari hasil pengamatannya tampak sekali perbedaan diantara mereka. Tukang bangunan pertama, tampak bekerja dengan ogah-ogahan, tidak semangat, sesekali tampak giat itupun ketika sang mandor datang, setelah mandor pergi, sang tukang bangunan kembali “nyantai”. Tukang bangunan yang kedua, tampak lebih giat, ada kerja keras nampaknya, tetapi dari raut mukanya ada guratan “beban” yang sangat terlihat, ceria kadang-kadang, itupun setelah sang mandor datang. Berbeda dengan tukang bangunan yang ketiga, tampak sekali ia sangat bersemangat, bukan hanya semangat tetapi sangat ceria. Baik ketika ada mandor atau tidak.
Akhirnya karena penasaran sang pemuda tersebut juga “iseng” bertanya kepada tiga tukang bangunan tersebut. Kepada tukang bangunan pertama sang pemuda bertanya, “ sedang ngapain pak?”, “sedang buat pondasi mas” jawab tukang tersebut dengan tidak semangat. Kemudian pemuda tersebut bertanya kepada tukang kedua, bertanya dengan pertanyaan yang sama, “lagi buat apa pak?” dengan wajah agak tegang sang tukang menjawab “sedang buat sekolahan mas”. Kemudian pertanyaan yang sama juga diberikan kepada tukang bangunan ketiga, dengan mantap dan diiringi seulas senyum yang terus berkembang sang tukang menjawab, “sedang membangun peradaban Islam mas”.
Ikhwah fillah, dari ilustrasi di atas ada beberapa hal yang bisa kita ambil pelajaran. Ternyata ada korelasi yang kuat antara “visi” seorang tukang bangunan dengan effort yang ia lakukan (tentunya juga kualitas bangunann yang dihasilkan). Seorang tukang bangunan yang hanya bervisi sejauh pondasi, berbeda dengan tukang bangunan yang bervisi bangunan sekolah. Seorang tukang yang bervisi bangunan sekolah berbeda dengan tukang bangunan yang bervisi peradaban Islam. Ternyata semangat jauh visi seorang tukang bangunan semakin baik pula performance nya.Oleh karena, bisa jadi, itulah mengapa Imam Nawawi dalam Kitab Riyadlus shalihin, menempatkan hadits tentang niat pada urutan pertama. “ Setiap amal sesuai dengan niat (visinya)nya”.
Seperti tukang bangunan, seorang dai yang beramal dakwah harus memiliki visi dakwah yang kuat, yang jauh ke depan. Berbeda seorang dai yang bervisi dengan seorang dai yang tidak bervisi. Berbeda dai yang bervisi kuat dan dai yang bervisi lemah. Berbeda dai yang bervisi dangkal dan dai yang bervisi jauh kedepan. Berbeda seorang dai yang bervisi sebatas program kerja dengan dai yang bervisi shohwatul Islam. Berbeda seorang dai yang bervisi asal akhi atau ukhti senang dengan seorang dai yang bervisi asal Allah Ridla.
Tanpa visi dakwah yang kuat dan jauh kedepan dari setiap dai, maka dai akan mengalami disorientasi dalam dakwah, dai bukan lagi menyeru kepada Allah tetapi menyeru kepada diri sang dai itu sendiri, akan banyak timbul permasalahan dalam dakwah. Sejarah telah mencatat betapa banyak da'i yang berguguran di jalan dakwah, betapa banyak terjadi konflik diantara para dai. Dengan penyebab utamanya adalah kelemahan visi dakwah seorang dai.
Syaikh Mustafa Masyhur allahu yarham, dalam salah satu bukunya menulis, bahwa salah satu permasalahan mendasar yang harus di pahami oleh dai adalah visi dakwah. Apa, mengapa dan bagaiman kita berdakwah. Berdakwah pada dasarnya adalah kebutuhan kita. Kepentingan kita. dakwah adalah transaksi pribadi kita dengan Allah, dengan imbalan bebas dari api neraka, transaksi dengan imbalan surga, transaksi dengan imbalan berupa ampunan dari Allah. Dengan dakwah kita berarti menunaikan amanah kita sebagai khalifah di bumi, berati kita menunaikan perintah Allah untuk menyeru kepada kebaikan, amar ma'ruf dan nahi munkar, menegakkan izzah islam dan kaum muslimin.
Proyek dakwah ini bukan proyek satu atau dua tahun, tapi proyek yang usianya lebih panjang dari usia kita. Yang perlu kita pahami bahwa dakwah akan terus berjalan sampai tidak ada fitnah di muka bumi, sampai aturan Allah sebagai acuan bagi seluruh umat manusia. Sampai Islam menjadi soko guru peradaban dunia, suatu peran yang saat ini di ambil oleh musuh-musuh Allah. Yang tentunya untuk menjadi soko guru peradaban dunia tidak bisa kita peroleh dalam seketika, tetapi memerluakan sebuah proses yang sistematik, dan juga memerlukan waktu.
Dakwah kita hendaknya dimulai dari pembentukan pribadi muslim yang kaffah, muslim dari segi akidahnya, muslim dari segi ibadahnya, muslim dari segi akhlaknya, muslim dari segi pemikirannya, muslim dari segi pekerjaanya, muslim dari segi perekonomiannya, muslim dari segi cara berpolitiknya, muslim dari segi pengambilan hukum dan muslim dalam segala hal. Dan ciri khas dari pribadi muslim yang kaffah adalah menjadikan Allah sebagai tujuan, menjadikan Rasulullah SAW sebagi teladan, menjadikan Al-quran sebagai acuan hidup, menjadikan perjuangan di Jalan Allah sebagai pilihan hidup serta mempunyai cita-cita tertinggi untuk mati di jalan Allah. Kepribadian muslim ini mustahil akan tercapai, kecuali dengan apa yang dicontohkan oleh Rasul, yaitu tarbiyah yang berkelanjutan. Kemudian dari setiap pribadi muslim, baik dari kalangan muslimin maupun muslimat membentuk sebuah keluarga yang islami, yang tentunya diawali dengan pernikahan yang Islami pula. Dengan adanya pernikahan yang Islami diharapkan akan lahir anak-anak yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan Islam, yang diauh dengan penuh kasih saying dari ayah dan ibu yang Islami. Dari beberapa keluarga yang Islami memberikan sebuah pencerahan kepada lingkungan dan masyarakat, kemuadian dari masyarakat yang baik akan muncul pemimpin-pemimpin yang baik (eksekutif, legislatif maupun yudikatif)yang ia akan melakukan perbaikan kepada segala bentuk kebijakan, undang-undang maupun hukum produk pemerintah. Dari pemerintahan yang baik akan muncul sebuah negara yang baik, dari beberapa negara yang baik akan muncul sebuah institusi (seperti PBB atau uni eropa) yang siap membela kebenaran dan keadilan sesuai dengan aturan allah. Dari sinilah predikat Islam sebagai soko guru perdaban dunia dapat tercapai.
Mungkin bagi orang yang pesimis, cita-cita ini adalah sebuah utopia, mimpi belaka. Apalagi dengan melihat realita yang ada saat ini, umat Islam dimana-mana di “kuyo-kuyo”, difitnah sebagai teroris, dijajah, diisolasi, diboikot. Tidak ada Negara yang dirundung konflik kecuali disitu pasti Negara Islam. Saat ini dunia sedang dikuasai oleh orang-orang yang bukan hanya tidak Islam, tetapi juga memusuhi Islam secara militan dan radikal.
Tetapi bagi orang yang percaya kepada janji Allah, tidak demikian. kalau kita simak perjalanan dakwah rasulullah maka kita akan melihat bahwa dakwah rasul begitu luar biasa, islam tumbuh di suatu kawasan yang tidak diperhitungkan oleh semua peradaban besar waktu itu, kawasan yang di apit oleh dua imperium besar , Romawi dan Persia. Selain faktor eksternal kawasan yang tidak mendukung, ternyata di internal kawasan arab sendiri umat islam di kuyo-kuyo, dikatakan gila, penyihir, pembohong, perusak persatuan, orang yang meninggalkan tradisi leluhur. Selain itu umat Islam waktu itu juga diludahi, disiksa, dilempar batu, diusir dari rumahnya, di boikat selama bertahun-tahun di suatu gurun yang gersang. Kalau dari hitung-hitungan matematis, TIDAK MUNGKIN Islam akan tumbuh dan berkembang seperti yang kita lihat saat ini. Tetapi kenyataan berkata lain, dalam waktu yang tidak terlalu lama (35 tahun) umat Islam menaungi sepertiga dunia. Subhanallah. Kekuatan visi dakwah, perencanaan dan pengamalan dakwah yang begitu sistematis dan bertahap, ditopang dengan tauhid dan ukhuwah diantara kaum muslimin. Kemenangan itu datang juga. Allahu Akbar
Terkait dengan visi dakwah, dalam proyek dakwah yang panjang ini, bisa jadi kita tidak merasakan hasil perjuangan kita. Bisa jadi apa yang kita lakukan tidak terlalu "berkontribusi" kepada hasil akhir sebuah proyek dakwah. Tetapi yang perlu kita ingat bahwa sesedikit apapun kontribusi kita, tetap mendapat perhitungan dari Allah. Selain itu kita perlu memastiakan bahwa kerja-kerja kecil kita dalam dakwah, sejalan dan seiring dengan arus besar Visi dakwah ini, bukan sebaliknya. Wallahu a’la